Minggu, 29 September 2013

Indonesia Sering Berjaya di Level Usia Muda tapi Tak Berprestasi di Senior, Kenapa?

thumbnail 
Belum lama ini anak-anak Indonesia menembus perempatfinal "Piala Dunia"-nya usia 10-12 di London, di final dunia Danone Nations Cup (DNC). Minggu lalu giliran remaja-remaja U-19 berhasil menjuarai Piala AFF. Lalu kenapa di level senior kita sangat sulit berprestasi?

Pertanyaan di atas adalah salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan teman-teman kepada saya melalui akun twitter saya (@coachtimo). Dan melalui tulisan ini saya mencoba menjawabnya dari analisis dan kacamata saya. (Kali ini ada dua hal yang akan saya bahas).

Indonesia sering berjaya di kejuaraan usia muda, namun tidak berprestasi di tingkat senior. Mengapa?

Ini sebuah pertanyaan yang sangat menarik dan seringkali diperdebatkan. Ada beberapa info yang perlu diketahui sehingga salah paham bisa terhindarkan, dan pertanyaan di atas bisa terjawab secara utuh (tidak sepotong-sepotong seperti yang selama ini sering saya alami).

Timnas negara-negara yang maju sepakbolanya dimulai dengan timnas junior berumur 15 tahun. Artinya, kejuaraan internasional di bawah umur 15 tahun lebih mengarah pada turnamen antarklub dan pertandingan antarpelajar. Hal ini tentu tidak bisa menjadi tolak ukur kehebatan pemain usia muda kita dibandingkan negara lain. Selain itu, perlu diketahui bahwa tidak semua turnamen internasional memiliki kelas yang sama. Kebanyakan turnamen bersifat invitasi atau open tournament yang bisa diikuti siapa saja dan belum tentu berkualitas.

Turnamen internasional untuk pemain usia dini (6-12 thn) dan usia muda (13-20 thn) sangat marak di berbagai belahan dunia dan ditawarkan oleh berbagai EO dan agency yang bergerak di sport travel. Turnamen-turnamen itu sendiri bisa anda cari infonya di internet dan umumnya dibagi dalam tiga kategori: (1) turnamen kelas kompetitif, (2) menengah dan (3) turnamen yang bersifat rekreasi. Saat ada tim dari Indonesia yang sukses di turnamen-turnamen tersebut, pemberitaan di Indonesia begitu bombastis tanpa menilik klasifikasi turnamen yang diikuti.

Sebagai contoh, turnamen kelas atas dunia saat ini adalah Danone Nations Cup (U12) dan MUPC (U15). Peserta world final untuk kedua turnamen ini harus menempuh jalan yang panjang di negara-negaranya masing-masing. Sedangkan Gothia Cup (Swedia) dan Singa Cup (Singapura) yang mempertandingkan beberapa kelompok umur termasuk contoh turnamen kelas menengah.

Selain pemberitaan yang bombastis, masalah pencurian umur yang kerap terjadi juga bisa mengaburkan nilai pencapaian. Salah satu penjaga gawang terkenal pernah mengaku kepada saya bahwa dia mencuri umur 5 tahun pada sebuah kejuaraan pelajar Asia.

Umumnya pencurian umur dilakukan secara tipis (1-2 tahun lebih tua), namun seringkali juga terjadi pencurian umur secara fantastis (3 tahun ke atas), dengan menggunakan pemain yang secara umur sudah tua namun masih terlihat muda dan berpostur tubuh pendek. Kebiasaan buruk ini terus terjadi karena pengurus, pelatih, pemain dan orangtua terlibat di dalamnya demi kepentingan masing-masing. Petugas kelurahan juga dengan mudah "dibeli" atau dikelabui sehingga surat kelahiran dan lain-lain disulap menjadi sesuai dengan ketentuan turnamen yang diikuti. Kebiasaan buruk ini bukan saja membohongi Indonesia [masyarakat berpikir kita sukses walau sebenarnya curang], tapi juga mendidik pemain untuk menjadi koruptor di masa depan.

Turnamen internasional untuk kelompok umur biasanya bersifat festival, artinya pertandingan tidak berlangsung lama. MUPC dilangsungkan selama 2X15 menit. DNC U-12 dilangsungkan 1x15 menit. Hal ini tentu berpengaruh pada hasil akhir. Keberuntungan menjadi faktor penting di saat pertandingan berlangsung secara singkat. Kesimpulan: kesuksesan maupun ketidaksuksesan dalam mengikuti turnamen-turnamen tersebut tidak bisa secara pasti menjadi tolak ukur kemampuan kita dibandingakan negara-negara lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar